‘Hate Speech’ musuh besar kebebasan berekspresi

Munculnya surat edaran terkait ujaran kebencian dari Kepolisian Republik Indonesia berawal dari banyaknya postingan di media sosial yang tidak mengindahkan etika dan norma. caci maki,  hujatan, penghinaan dan fitnah dengan bebasnya tanpa sensor berseliweran di media sosial. Mulai urusan politik, percintaan, keluarga, masalah pekerjaan dll. Postingan ditulis tanpa berfikir panjang benar-benar curahan emosi yang tidak terkendali dan tidak disaring.

Lebih parah lagi kalau sampai keluar kata-kata kasar yang tidak perlu dan juga ancaman serta makian berbau rasial. Padahal Media sosial dibaca oleh banyak orang, dari mulai teman kita, orang tua, guru, sampai pada anak-anak. Alangkah tidak elok ketika anak-anak kita membaca caci maki dan hujatan kita di media sosial yang tentunya tidak mendidik dan pasti akan berpengaruh secara psikologis terhadap perkembangan anak.

Postingan caci maki dan penuh emosi di media sosial memang mengurangi kemarahan dan memberikan kepuasan yang sangat bagi penulisnya, namun dengan caci maki, hasutan, fitnah dan hinaan tentu akan memunculkan jati diri yang sebenarnya.

Media sosial memang tanpa sensor orang bebas mengemukaan apa saja, namun kebebasan tersebut tetap ada batasnya. Norma dan etika sebagai adat ketimuran juga harus diperhatikan karena bisa saja akan menjadi persoalan bagi yang menulisnya.

Caki-maki, hujatan dan olok-olok atau bahasa kerennya bully di media sosial hanya akan berdampak negatif bagi penulisnya, terkadang akan menimbulkan sebuah permusuhan antar kawan, antar saudara. Selain itu pula bisa merubah penilaian seseorang terhadap si penulis caci maki yang tadinya positif menjadi negatif.

Namun setelah muncul Surat Edaran (SE) No. SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech) yang dikeluarkan Kepala Polisi RI Jenderal Badrodin Haiti, postingan caci maki dan hujatan sedikit berkurang.

Kemunculan Suran edaran itu bukan tanpa sebab, dengan adanya SE itu bisa menjadi pengingat bagi masyarakat, terutama warga pengguna internet (netizen), untuk ekstra hati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, khususnya di jejaring media sosial. Literasi media digital pun menjadi sesuatu yang penting dikembangkan untuk mengedukasi masyarakat.

Dalam SE tersebut disebutkan bahwa aspek yang dianggap dapat menyulut kebencian juga tak terbatas pada suku, agama, ras, etnis, dan golongan. Aspek mengenai warna kulit, jender, kaum difabel, hingga orientasi seksual juga menjadi perhatian dalam surat edaran ini.

Padahal, fenomena yang berkembang saat ini di jejaring media sosial, setiap orang tak memiliki batasan dalam mengunggah sesuatu atau memberikan komentar terhadap suatu peristiwa.

Dalam surat itu, disebutkan ada lima poin yang menjadi pertimbangan dikeluarkannya SE tersebut. Berikut pertimbangan itu:

a.    bahwa persoalan mengenai ujaran kebencian semakin mendapatkan perhatian masyarakat baik nasional maupun internasional seiring dengan meningkatnya kepedulian terhadap perlindungan atas Hak Asasi Manusia (HAM).

b.    bahwa perbuatan ujaran kebencian memiliki dampak yang merendahkan harkat martabat manusia dan kemanusiaan seperti yang telah terjad di Rwanda, Afrika Selatan ataupun di Indonesia.

c.    bahwa dari sejarah kemanusiaan di dunia maupun bangsa ini, ujaran kebencian bisa mendorong terjadinya kebencian kolektif, pengucilan, diskriminasi, kekerasan, dan bahkan pada tingkat yang paling mengerikan, pembantaian etnis, atau genosida terhadap kelompok yang menjadi sasaran ujaran kebencian.

d.    bahwa masalah ujaran kebencian harus dapat ditangani dengan baik karena dapat merongrong prinsip berbangsa dan bernegara Indonesia yang berbhineka Tunggal Ika serta melindungi keragaman kelompok dalam bangsa ini.

e.    bahwa pemahaman dan pengetahuan atas bentuk-bentuk ujaran kebencian merupakan hal yang penting dimiliki oleh personel Polri selaku aparat negara yang memiliki tugas keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum serta perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga dapat diambil tindakan pencegahan sedini mungkin sebelum timbulnya tindak pidana sebagai akibat dari ujaran kebencian tersebut.

Sejak surat edaran Kapolri terkait ujaran kebencian diterbitkan, polisi gencar menyisir akun di media sosial yang dianggap rawan. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti membenarkan bahwa pihaknya tengah meneliti sekitar 180.000 akun media sosial.

Sampai saat ini hasutan, cacian, hinaan di beranda media sosial sedikit berkurang kendatipun banyak juga yang tidak sepakat dan menantang dengan dikeluarkannya surat edaran ini. SE ujaran kebencian ini katanya ditakutkan akan muncul kriminalilsasi dan merusak demokrasi.

Namun jika SE Ujaran Kebencian ini bisa dijalankan secara profesional tanpa kebencian dari si penegak hukum maka akan menjelaskan bahwa kebeasan seseorang tentu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sehingga ketika kita melakukan kritik maka kritik itu disampaikan secara santun, tidak perlu disertai dengan fitnah, hasutan, caci maki dan hinaan.

Surat Edaran ini muncul bukan membuat atau menerbitkan aturan baru hanya sebagai pengingat saja agar para pemakai medsos bisa bijak karena sebelumnya ada aturan yang membatasi dan tercantum dalam surat edaran tersebut. Surat Edaran itu merupakan jawaban dari bebasnya melakukan posting tanpa saringan di media sosial.


Caci maki,  hinaan, fitnah dan ujaran kebencian di medsos bisa menjadi musuh besar dari kebebasan berekspresi. Caci Maki inilah yang menyebabkan keluarnya SE tersebut. Mari dengan bijak gunakan Medsos.


 

Baca juga Stop “Caci Maki” di Media Sosial

Inilah isi dari Surat Edaran (SE) No. SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (hate speech) yang dikeluarkan Kepala Polisi RI Jenderal Badrodin Haiti, (klik difoto ini)

kapolri-cabut-se-hate-speech

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s